Nomaden Coffee: Konsep sederhana dan berkarakter

Dias Satria

Baru beberapa hari di Malang, saya diundang salah satu rekan untuk berbicara tentang small and medium enterprise (Usaha Mikro dan Kecil Menengah – UMKM) di Kota Malang tanggal 22 Oktober 2014, dengan tema kesiapan UMKM mengadapi Asean Economic Community (AEC) 2015.

Sebuah tema yang cukup populer saat ini ditengah-tengah pro-kontra pasar bebas, dengan segala ancaman dan peluang di dalamnya.

Ancaman pasar bebas AEC tentu akan berdampak pada tingginya kompetisi usaha yang pada akhirnya akan menseleksi entitas bisnis yang tidak kuat dalam kompetisi. Sehingga bisnis-bisnis baru yang tidak kuat dalam kesiapan investasi, kesiapan inovasi, kesiapan sumber daya manusia dan kesiapan menghadapi preferensi pasar akan tenggelam dalam era pasar bebas.

Namun secara sederhana, peluang pasar bebas AEC tentu akan memperluas market bisnis sehingga memudahkan para pebisnis untuk melakukan ekspansi bisnis dan tentunya keuntungan (profit).

Setidaknya sebagai pebisnis kita harus punya “harapan” atau hopes bahwa kita mampu bersaing dalam pasar bebas AEC, tentunya dengan segala keterbatasan yang kita miliki. Namun tentu saja harapan harus diimbangi dengan kesiapan seperti yang diungkapkan sebelumnya, yaitu: kesiapan investasi, kesiapan inovasi, kesiapan SDM dan kesiapan menghadapi preferensi pasar yang selalu berubah-ubah.

Pagi ini saya memulai aktivitas ngopi di “Nomaden Coffee” milik Mas Satya di depan Taman Krida, Soekarno Hatta Malang. Aktivitas ngopi memang sejak 2 tahun terkahir menjadi hobby wajib sejak kuliah di Adelaide. Dan cerita pagi ini menginspirasi saya memulai menulis makalah tentang UMKM dan AEC 2015.

Nomaden coffee merupakan penjual kopi pinggir jalan dengan gerobak yang ditarik sepeda, yang saya pikir berbeda dan punya kualitas. Menarik melihat aktivitas bisnis yang satu ini, ditengah-tengah hingar bingar coffee shop mewah yang berjamuran di Malang.

Bagi orang-orang di Adelaide, kopi merupakan barang wajib di pagi hari sebelum memulai aktivitas. Tengok saja, coffee shop tenda merah (Cibo), Hudson coffee shop dan beberapa warung kopi lokal di sekitaran Ebenezer Pl (Rundle street) atau Coffee shop fave saya Espresso Royale.

Diskusi tentang Nomaden Coffee membuat saya terkejut begitu kuatnya karakter lokal dalam membangun sebuah image yang saya bilang “luar negri”. Dan rasa kopinya pun juga sangat kuat, dan terasa “pas” untuk seorang penikmat kopi enak.

Variasi menunya pun juga luar biasa, dengan segala keterbatasan peralatan yang “home made”, nomaden coffee mampu menyajikan berbagai variasi kopi yang meriah dari mulai espresso hingga Vietnamese coffee.

Selanjutnya, konsep yang diusung pun juga sangat hebat, yang saya rangkumkan dalam dua kata: sederhana dan berkarakter. Dengan gerobak modifikasi yang ditarik dengan sepeda, serta peralatan coffee maker yang sebagian besar menggunakan tangan (bukan mesin besar seperti kebanyakan coffee shop yang ada), atau dengan kata lain “sederhana”, namun nomaden coffee mampu memproduksi segelas kopi yang berkarakter, enak dan pas.

Hal inilah yang saya pikir menjadi sebuah pelajaran penting membangun sebuah image bisnis. Berkembang secara perlahan namun punya karakter yang disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas bisnis. Dan inilah yang saya pelajari dari Nomaden coffee sebuah gerobak penjual kopi yang ditarik sepeda.

Kedepan, merupakan sebuah keharusan bagi Nomaden coffee untuk terus memperbaiki diri dan kualitas, guna menghadapi sebuah kompetisi yang kuat. Oleh karena itu, memahami keinginan dan preferensi penikmat coffee juga harus menjadi prioritas selain juga terus eksis memperbaiki internal dan produktivitas bisnisnya.

Mari support bisnis lokal yang sederhana dan berkarakter. (blog. diassatria.lecture.ub.ac.id)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

Set your Twitter account name in your settings to use the TwitterBar Section.